Lestarikan Tradisi Mandar, Desa Panyampa Gelar Festival Sayyang Pattu’du yang Meriah
POLEWALI MANDAR – Suasana penuh kegembiraan menyelimuti Desa Panyampa, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar. Puluhan kuda yang dihias cantik tampak menari mengikuti irama tabuhan rebana dalam gelaran Festival Sayyang Pattu’du (Kuda Menari). Acara yang digerakkan oleh para pemuda dan tokoh adat setempat ini berhasil menyedot perhatian ribuan warga, baik dari dalam maupun luar daerah.
Tradisi Penghargaan untuk Penghafal Al-Qur’an Sayyang Pattu’du merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Mandar sebagai bentuk apresiasi kepada anak-anak yang telah khatam Al-Qur’an. Di Desa Panyampa, festival ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan momentum pemersatu warga dan ajang pelestarian budaya bagi generasi muda.
Dalam pelaksanaannya, anak-anak yang telah khatam Al-Qur’an (disebut Pekhatam) duduk di atas punggung kuda yang telah dihias khusus. Di depan mereka, para tokoh adat dan pemuda sanggar membawakan Kalindaqdaq—pantun khas Mandar yang berisi nasihat kehidupan dan pesan moral.
Kolaborasi Anak Sanggar dan Pemuda Desa Ketua panitia festival menyatakan bahwa kesuksesan acara tahun ini merupakan buah dari kolaborasi intensif anak-anak sanggar seni lokal dan pemuda Desa Panyampa.
“Kami ingin membuktikan bahwa pemuda desa sanggup mengelola event besar yang memadukan nilai religi dan pariwisata. Sayyang Pattu’du adalah jati diri kita, dan kami bertanggung jawab agar tradisi ini tetap relevan di mata anak muda,” ujarnya di sela-sela acara.
Daya Tarik Wisata dan Ekonomi Camat Campalagian yang turut hadir memberikan apresiasi tinggi. Beliau menyampaikan bahwa festival di Desa Panyampa ini memiliki keunikan tersendiri dari segi koreografi kuda dan keterlibatan komunitas kreatifnya. Selain melestarikan budaya, festival ini juga berdampak positif pada ekonomi warga sekitar melalui banyaknya pedagang UMKM yang menjajakan kuliner khas Mandar selama acara berlangsung.
Kemeriahan ditutup dengan arak-arakan keliling desa yang diiringi musik rebana yang ritmis, membuat kuda-kuda tersebut seolah menari mengikuti ketukan. Festival ini diharapkan dapat terus terlaksana setiap tahunnya dengan kemasan yang lebih inovatif tanpa menghilangkan nilai sakralnya.






