Waspada Serangan Burung Pipit, Petani di Desa Panyampa Berjaga di Sawah Hingga Petang
PANYAMPA – Memasuki musim puncak pematangan bulir padi, para petani di Desa Panyampa kini harus bekerja ekstra keras. Bukan lagi soal pengairan atau pupuk, melainkan perjuangan melawan ribuan burung pipit yang mulai menyerbu lahan persawahan warga dalam sepekan terakhir.
Pantauan di lokasi menunjukkan pemandangan yang tak biasa di hamparan sawah Desa Panyampa. Sejak pukul 07.00 WITA, suasana sawah sudah riuh dengan suara dentuman kaleng bekas, tiupan peluit, hingga teriakan para petani yang berusaha menghalau kawanan burung yang datang silih berganti.
Strategi Tradisional di Tengah Sawah
Para petani menggunakan berbagai alat kreatif untuk menyelamatkan hasil panen mereka:
Bentangan Tali Perak: Tali yang dipasang melintang di atas tanaman padi untuk menyilaukan pandangan burung.
Orang-orangan Sawah: Patung berbahan kain bekas yang digerakkan menggunakan tali dari gubuk.
Simfoni Kaleng Bekas: Kaleng-kaleng yang diisi kerikil dan dihubungkan dengan tali panjang agar bisa dibunyikan secara serentak.
Kekhawatiran Akan Gagal Panen
Salah satu petani setempat, Pak Syamsuddin (52), mengaku tidak berani meninggalkan sawahnya barang sejenak. Menurutnya, kawanan burung pipit tahun ini jauh lebih banyak dibandingkan musim sebelumnya.
“Kalau ditinggal sebentar saja untuk pulang makan, habis sudah padi kita dihisap burung. Mereka datang berkelompok, ribuan jumlahnya. Jadi, kami harus berjaga bergantian dengan keluarga dari pagi sampai matahari terbenam,” ujar Pak Syamsuddin sambil menarik tali pengusir burung.
Hal senada diungkapkan petani lainnya. Mereka merasa khawatir jika tidak dijaga ketat, hasil panen yang diharapkan melimpah bisa berkurang drastis hingga 30-50 persen. Mengingat biaya pupuk dan pestisida yang cukup tinggi musim ini, para petani tidak ingin mengambil risiko kehilangan “bulir emas” mereka.
Harapan Petani
Meski melelahkan, para petani di Desa Panyampa tetap bersemangat. Mereka berharap cuaca tetap mendukung hingga masa panen tiba yang diperkirakan akan berlangsung dua pekan ke depan. Mereka juga berharap adanya perhatian dari pihak terkait mengenai penyediaan jaring pengaman burung yang lebih efektif untuk membantu meringankan beban kerja petani di lahannya.






