Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Semarak Sayyang Pattu’du di Desa Panyampa: Tradisi Menunggang Kuda yang Memukau Wisatawan di Polewali Mandar

Semarak Sayyang Pattu’du di Desa Panyampa: Tradisi Menunggang Kuda yang Memukau Wisatawan di Polewali Mandar

POLEWALI MANDAR – Suasana di Desa Panyampa, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) mendadak riuh dan penuh warna pada pagi hari ini. Ratusan warga tumpah ruah ke jalan untuk menyaksikan Sayyang Pattu’du atau tradisi Kuda Menari, sebuah warisan leluhur suku Mandar yang tetap terjaga kelestariannya.

Acara yang digelar sebagai bentuk syukuran atas khataman Al-Qur’an para santri ini menampilkan puluhan kuda yang telah dihias cantik dengan berbagai aksesoris khas Mandar. Uniknya, kuda-kuda ini tidak sekadar berjalan, melainkan melakukan gerakan seirama mengikuti tabuhan rebana yang dimainkan oleh para seniman lokal (Parrawana).

Harmoni Budaya dan Religi

Kepala Desa Panyampa mengungkapkan bahwa tradisi ini bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan simbol penghargaan bagi anak-anak yang telah menyelesaikan pengajian mereka. “Sayyang Pattu’du adalah cara kami memotivasi generasi muda agar cinta Al-Qur’an. Menunggang kuda menari adalah hadiah spesial atas ketekunan mereka,” ujarnya.

Di atas punggung kuda, para peserta tampak anggun mengenakan pakaian adat Mandar. Di belakang mereka, terdapat pendamping yang memberikan semangat serta sesekali membacakan Kalinda’da (pantun sastra Mandar) yang berisi petuah bijak dan sanjungan.

Daya Tarik Wisatawan

Kemeriahan di Desa Panyampa ini tidak hanya menarik minat warga lokal, tetapi juga sejumlah wisatawan dari luar daerah. Mereka terpukau dengan sinkronisasi antara gerakan kaki kuda dengan ritme musik pengiring.

“Sangat luar biasa. Saya baru pertama kali melihat kuda bisa menari mengikuti irama musik sesempurna itu. Ini adalah kekayaan budaya yang harus terus dipromosikan,” ujar salah satu pengunjung asal Makassar.

Menjaga Warisan Leluhur

Meskipun zaman terus berkembang, masyarakat Desa Panyampa berkomitmen untuk terus menjaga tradisi ini. Selain sebagai ajang silaturahmi antarwarga, Sayyang Pattu’du juga menjadi penggerak ekonomi lokal, mulai dari penyewaan kuda, perajin kostum, hingga pedagang UMKM di sekitar lokasi acara.

Acara ditutup dengan arak-arakan keliling desa dan doa bersama, menandai suksesnya perayaan budaya yang menyatukan nilai religi, seni, dan kebersamaan masyarakat Mandar.

 

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *